Thursday, June 1, 2017

At-Tasmi’



Masih banyak kaum muslim yang belum mengetahui tentang hal ini maka perlu saya buat tulisan ini.. agar pembaca semakin ikhlas dalam beramal shaleh

Tasmi' adalah menceritakan aktivitas taqarub kepada manusia untuk memperolah keridhaan manusia.

 Perbedan antara riya dan tasmi’ (sum’ah) adalah riya itu menyertai suatu amal, sedangkan tasmi’ adalah setelah beramal.

Riya tidak bisa diketahui kecuali oleh Allah dan tidak ada cara bagi orang lain untuk mengetahuinya. Bahkan orang yang riya sekali pun tidak akan mengetahui adanya riya dalam dirinya, kecuali jika ia berubah menjadi ikhlas.

 Imam Nawawi telah meriwayatkan dalam al-Majmû’ dari asy-Syâfi’i, beliau berkata:
 “Tidak akan mengetahui riya kecuali orang yang ikhlas.”

Ikhlas itu membutuhkan perhatian yang serius dan kesungguhan jiwa. Tidak akan mampu berbuat ikhlas kecuali orang yang telah memisahkan diri dari dunia (maksudnya zuhud bukan berati mengasingkan diri dari dunia).

Tasmi’ bisa jadi ada dalam suatu taqarub yang dilakukan secara tersembunyi seperti orang yang shalat di malam hari, dan di pagi harinya ia meceritakan taqarubnya itu kepada orang lain. Tasmi’ bisa juga ada pada taqarub yang dilakukan secara terang-terangan di suatu tempat, kemudian diceritakan kepada orang lain yang ada di tempat lain. Semua itu dilakukan dengan tujuan ingin memperoleh keridhaan manusia Diantara pelajaran paling baik yang telah sampai kepada kita tentang generasi pertama (para sahabat) dan upaya mereka dalam menjauhkan diri dari sifat tasmi’ adalah apa yang telah diriwayatkan oleh

*Abû Yusuf dalam kitab al-Atsar dari Abû Hanifah*

dari Ali bin al-Aqmar, _bahwa Umar bin al-Khathab pernah lewat kepada seorang laki-laki yang sedang makan dengan tangan kirinya. Umar saat itu berdiri menghadap para sahabat yang sedang makan._

 Maka Umar berkata kepada lelaki itu,
_“Wahai hamba Allah, makanlah dengan tangan kananmu"._

 Laki-laki itu berkata, _“Tangan kananku ‘sibuk’”._

 Kemudian Umar menghampiri kedua dan ketiga kalinya tapi laki-laki itu tetap makan dengan tangan kirinya dan berkata seperti tadi.

_Kemudian Umar berkata, “Sibuk dengan apa?”_

_Laki-laki itu berkata, “Tangan kananku terputus pada perang Mu’tah"._

_Maka Umar pun terkejut mendengar jawabanya itu. Kemudian berkata, “Lalu siapa yang yang mencuci pakaianmu? Siapa yang meminyaki rambutmu? Siapa yang melayanimu?”_

Ali bin Akmar berkata, _“Kemudian Umar menyiapkan kebutuhannya. Umar memerintahkan agar ia diberi seorang budak, satu tunggangan beserta makanan dan nafkahnya.”_

Para sahabat berkomentar, “Umar telah memberikan balasan kebaikan kepada rakyatnya."

No comments:

Post a Comment